Riwayat Hidup KH. Ghufron Achid

 
Riwayat Hidup KH. Ghufron Achid

Daftar Isi Profil KH. Ghufron Achid

  1. Kelahiran
  2. Wafat
  3. Keluarga
  4. Pendidikan
  5. Menjadi Pimpinan Madrasah Salafiyah Ibtidaiyah (MSI)
  6. Aktif di Organisasi
  7. Teladan
  8. Karya-Karya

Kelahiran

KH. Ghufron Achid adalah putra dari pasangan KH. Achid dan Nyai Arifah. Beliau dilahirkan pada hari kamis pahing tanggal 15 Syawal 1349 H/tanggal 5 Maret 1931 M, di Kauman Pekalongan. Tapi sayangnya, sejak kecil Kiai Ghufron sudah menjadi yatim, beliau ditinggal oleh ayahnya.

Wafat

KH. Ghufron Achid wafat pada usia 73 tahun, pada hari Rabu Wage tanggal 7 Pebruari 2001 M/13 Dzul Qo’dah 1421.

Keluarga

KH. Ghufron Achid melepas masa lajangnya dengan menikahi Aisyah putri dari Al Markhum, Al Maghfurlah mbah KH. Mudzakir bin KH. Fadholi, adik kandung dari KH. Ibnu Chadjar Mudzakir.

Buah dari pernikahannya beliau karunia 11 Putera ( anak ), 4 orang laki-laki dan 7 orang perempuan. dan sampai sekarang sudah bertambah 13 cucu dan 1 cicit.

Putra, Putri dan menantu beliau :

  1. Hj Aminah + KH Azizuddin Muzajjad (3 cucu + 2 cicit)
  2. Khairiyah + Miftakhuz Zuhri (2 cucu)
  3. Dhofiroh + H Zainudin (Payaman – 6 cucu)
  4. Sa’duddin + Inayah
  5. Labib + Novita
  6. Ishmah + K Jamil (1 cucu)
  7. Kamilah + Slamet Rahmat (1 cucu)
  8. Akhiroh
  9. Mismakhah al Khafidhoh
  10. Muhammad (ndung)
  11. Hamid

Pendidikan

Pada masa mudanya, beliau menghabiskan waktunya untuk mencari ilmu, beliau mengaji kepada KH. Baidlowi Kauman, selanjutnya beliau menuntut ilmu pada para Ulama di berbagai Pondok Pesantren antara lain :

  1. KH. Ma’shum Ponpes Al Hidayah Lasem selama 6 tahun
  2. KH. Masduki Ponpes Al Ishlah Lasem
  3. KH. Baidlowi Lasem
  4. KH. Maftukhin Lasem
  5. KH. Cholil
  6. KH. Fatkhur Rohman
  7. KH. Manshur Lasem
  8. KH. Muhammadun Tayu
  9. KH. Arwani Kudus
  10. KH. Muhammad Hambali Sumardi
  11. Mbah Ahmad Asy’ari Poncol Salatiga

Beliau juga penah bai’at thariqah An Naqsyabandiyah Al Khalidiyah sebagaimana pernah diceritakan oleh sahabat beliau KH. Abdullah Faqih Langitan dalam kesempatan pertemuan di daerah Kudus.

Menjadi Pimpinan Madrasah Salafiyah Ibtidaiyah (MSI)

Setelah dirasa cukup dalam menimba ilmu KH. Ghufron Achid diperintahkan untuk mengajar dan memimpin Madrasah Salafiyah Ibtidaiyah (MSI) yang didirikan oleh Ayah Mertua beliau KH. Mudzakir Fadholi bersama Pengurus Salafiyah yang lain.

MSI yang pada awalnya berlokasi di Kauman Pekalongan dengan 6 (enam) lokal kecil, akhirnya berkat kegigihan beliau dan para Pengurus Yayasan Salafiyah Kauman Pekalongan, sekolah itu berkembang pesat dalam waktu yang tidak lama, dan pada saat ini terdiri dari :

  1. MSI 01 KAUMAN
  2. MSI 02 KEPUTRAN
  3. MSI 05 SAMPANGAN
  4. SMP SALAFIYAH KAUMAN
  5. MA SALAFIYAH

Disamping beliau memimpin sekolah, beliau juga melanjutkan pengajian Bapak Mertua bersama KH. Ibnu Chajar bin KH. Mudzakir yaitu pengajian kitab Ihya’ ‘Ulumuddin, Kitab Sahih Bukhori dan banyak lagi kitab-kitab lain yang diajarkan kepada para Santri beliau.

Aktif di Organisasi

KH. Ghufron Achid adalah seorang pejuang Disamping kesibukannya memimpin sekolah, mengajar berbagai kitab kepada santri, beliau sempat pula terjun di berbagai kegiatan organisasi sosial seperti:

  1. Menjadi Rois Syuriyah PC NU Kota Pekalongan, dalam kapasitas sebagai Rais ini dalam Haul ke tujuh (2008) Habib Thohir bin Abdullah Al Kaff, beliau menceritakan bahwa beliau pernah mendapatkan rekomendasi dari Al Maghfurlah untuk membahas masalah Ahlus sunnah wal jama’ah di PBNU dan berhasil meluruskan buku tentang ahlussunnah wal jama’ah yang akan diterbitkan oleh PBNU.
  2. Ketua Umum MUI Kota Pekalongan pernah menjadi satu periode.
  3. Ketua I Yayasan Salafiyah Kauman Pekalongan menjadi.
  4. salah satu pengurus Yayasan Ahlis Sunnah Wal Jama’ah yang membawahi SMP Wahid Hasyim dan SMA Hasyim Asy’ari.
  5. Ketua Yayasan Khirzaddin yang didirikan oleh Almarhum Bpk H Kamaludin Bachir
  6. Pengurus serta aktifis “Majlis Musyawarah Diniyah” Pekalongan yang didirikan oleh Almarhum Bpk H Junaid.
  7. Beliau juga seorang yang sangat memperhatikan masalah ekonomi dengan aktif memberikan pertimbangan didirikannya Koperasi Pemuda Buana (KOPENA) dan mensupport gerakannya, dibuktikan dengan kesediaan beliau menjadi anggota Koperasi tersebut.
  8. Beliau aktif pula memperhatikan permasalahan Haji yang antara lain dengan keikutsertaan beliau sebagai Penasehat di KBIH As Salamah Kota Pekalongan.
  9. Beliau memprakarsai berdirinya Badan Amil Zakat ( BAZ ) di Kota Pekalongan dan menjadi salah seorang Pengurus yang tujuan utamanya untuk memberikan pemikiran santunan kepada Fuqara Masakin/ekonomi lemah.

Teladan

Teladan yang bisa kita ikuti dari KH. Ghufron Achid diantaranya adalah tentang pentingnya akhlaqul Karimah, perilaku baik, kesabaran, kesholehan, kegigihan, kejelian, ketelitian, dan ketaqwaan dan perjuangan beliau untuk Islam, Bangsa dan Negara.

Karya-Karya

Ada beberapa karya KH. Ghufron Achid yang perlu diketahui :

  1. Beliau pernah mengadakan penelitian secara pribadi bersama-sama pengurus MUI yang lain tentang proses pemotongan hewan di lokasi pemotongan hewan (blandong), apakah proses pemotongan hewan itu sudah sesuai dengan syari’at Islam.
  2. Beliau pernah mengadakan penelitian secara pribadi bersama-sama pengurus MUI yang lain ke tempat-tempat praktek SMOKE COUTHING (dindong), dan hasilnya MUI memberikan fatwa Permainan Dindong termasuk perjudian dan mengajukan permohonan kepada Walikota Pekalongan agar permainan itu dilarang. Dan Alhamdulillah permohonan itu dikabulkan, Walikota melarang dan menutup permainan dindong.
  3. Beliau bersama pengurus MUI lainnya dan didukung oleh Ormas-ormas Islam serta Ponpes – Ponpes di Pekalongan mengajukan usulan kepada Pemerintah Daerah dan Pemerintah Pusat agar Gedung Pemuda yang mempunyai sejarah pahlawanan orang Pekalongan, dijadikan Masjid.

Dengan adanya usulan tersebut terpaksa beliau bersama dengan pengurus yang lain harus berhadapan dengan DPRD, Walikota dan Kejaksaan serta orang-orang yang menentang waktu itu. Memang nampaknya pada waktu itu, pada saat pemerintah sangat berkuasa, hal tersebut terasa merupakan hal yang sangat mustahil, tetapi Allah SWT Maha Kuasa atas segala sesuatu. Sesuatu yang kelihatannya tak mungkin terjadi, bisa saja terjadi atas izin-Nya.

Akhirnya terjadilah Reformasi di Indonesia, dan atas desakan para Pemuda dan seluruh lapisan Masyarakat, serta bantuan jasa dari Walikota Pekalongan bersama tokoh-tokoh lain, Alhamdulillah sekarang telah berdiri dengan megah sebuah Masjid dengan nama Masjid As  Syuhada sebagai monumen perjuangan para Pahlawan/Syuhada Pekalongan mempertahankan kemerdekaan NKRI pada tanggal 3 Oktober 1945.