Biografi KH. Faqih Abdul Jabbar Maskumambang

 
Biografi KH. Faqih Abdul Jabbar Maskumambang

Daftar Isi Profil KH. Faqih Abdul Jabbar Maskumambang

  1. Kelahiran
  2. Wafat
  3. Pendidikan
  4. Mendirikan Pesantren
  5. Karya-Karya

Kelahiran

KH. Faqih Abdul Jabbar atau yang kerap disapa dengang panggilan KH. Faqih Maskumambang lahir pada tahun 1282 H atau bertepatan pada tahun 1866 M, di desa Maskumambang, wilayah Sedayu, Gresik di Jawa Timur.

Wafat

KH. Faqih Maskumambang wafat pada tahun 1353 H/1937 M dan dimakamkan di Maskumambang.

Penerus KH. Faqih Maskumambang adalah KH. Ammar bin Faqih Maskumambang (lahir 1902 dan wafat 1965), yang melanjutkan tonggak kepemimpinan pesantren Maskumambang sepeninggal KH. Faqih. KH. Ammar bin Faqih juga menulis beberapa karangan kitab, di antaranya adalah “al-Rudûd wsa al-Nawâdir” yang mengkaji permasalahan hukum dua sembahyang Jum’at, juga kitab “al-Nûr al-Mubîn”, “al-Hujjah al-Bâlighah”, “Tahdîh Ahl al-Sunnah wa al-Jamâ’ah”, dan lain-lain

Pendidikan

KH. Faqih Abdul Jabbar memulai pendidikkannya dengan belajar langsung kepada ayahnya. Beliau belajar membaca al-Qur’an dengan qira’at Nafi’ dan selainnya, juga belajar fikih kepadnya dan membaca kitab al-Minhâj (Minhâj al-Thâlibîn karya al-Nawawî).

Setelah selesai belajar kepada sang ayah, kemudian beliau melanjutkan pendidikannya dengan belajar ilmu nahwu dan bahasa Arab kepada Syekh Kholil Bangkalan.

Setelah selesai belajar kepada Syekh Kholil Bangkalan, pada tahun 1298 H/1880 M, KH. Faqih Maskumambang pergi haji dan bermukim di Makkah untuk thalabul ilmi.

Di Makkah beliau belajar kepada Sayyid Abu Bakar bin Muhammad Syatha, Sayyid Umar bin Muhammad Syatha dan anaknya Ahmad.

Beliau juga “menangi” beberapa murid Sayyid Ahmad bin Zaini Dahlan dan belajar dari mereka. Beliau belajar fikih dan nahwu kepada Syekh Muhammad bin Sulaiman al-Makki, murid dari Muhammad ‘Abid al-Sindi dan Abdullah bin Hasan al-Dimyathi. Beliau mengaji Shahih Tirmidzi di beberapa majlis, seperti majlis Syekh Sa’id bin Muhammad Ba-Bashil yang saat itu menjabat sebagai mufti madzhab Syafi’i. Beliau juga mengaji Shahih Bukhari dari Sayyid Husain bin Muhammad al-Habsyi al-‘Alawi. Beliau mengambil riwayat dari Abid bin Husain bin Ibrahim al-Maliki, Jamal bin al-Amir al-Maliki, Sa’id bin Muhammad al-Yamani, Mahfuzh bin Abdullah al-Tarmasi, dan Abdul Hayy bin Abdul Kabir al-Kattani.

Selain belajar kepada ulama besar Makkah, KH. Faqih Maskumambang juga mengambil kredensi intelektual (ijâzah) dan sanad keilmuan dari ulama-ulama besar dunia Islam yang datang ke Makkah untuk berhaji, seperti Syekh Syu’aib bin Ali al-Rabathi, Syekh Muhammad Ja’far al-Kattani, Syekh Abdullah Shudfan al-Hanbali al-Dimasyqi, Syekh Abdul Aziz bin Ahmad al-Banati al-Fasi, dan lain sebagainya.

Informasi berharga lainnya yang dikemukakan oleh Habib Salim bin Jindan dalam “Raudhah al-Wildân” adalah keberadaan kitab tsabat dan sanad milik KH. Faqih Maskumambang, berjudul “Ghâyah al-Amânî fî Asânîd al-Syekh Faqîh bin ‘Abd al-Jabbâr al-Maskûmbânî”. Habib Salim bin Jindan mengatakan jika dirinya mendapatkan kitab tersebut dari KH. Faqih Maskumambang di Surabaya.

Mendirikan Pesantren

Sepulangnya dari Makkah, KH. Faqih Maskumambang kemudian menetap di Maskumambang, Gresik, Jawa Timur dan membuka pesantren di sana. Beliau juga terhitung sebagai kawan dekat KH. Hasyim Asy’ari Jombang yang mana bersama-sama turut serta membidani kelahiran Nahdlatoel Oelama (NU) di Surabaya pada tahun 1926.

 Kedekatan hubungan ini pun kian bertambah erat ketika salah satu keponakan KH. Faqih, yaitu KH. Ma’shum Ali (pengarang kitab ilmu shorof “al-Amtsilah al-Tashrifiyyah” yang terkenal), dinikahkan dengan putri pertama KH. Hasyim Asy’ari, yaitu Nyai Khoiriyyah Hasyim. Keponakan KH. Faqih yang lain, yang juga adik KH. Ma’shum Ali, yaitu KH. Adlan Ali, juga terhitung sebagai salah satu tokoh NU masa-masa awal.

Karya-Karya

KH. Faqih Maskumambang tercatat memiliki beberapa karangan yang ditulis dalam bahasa Arab, di antaranya adalah “al-Manzhûmah al-Dâliyyah li Ma’rifah al-Syuhûr al-Qamariyyah” dalam bidang ilmu falak, juga kitab “al-Nushûsh al-Islâmiyyah fî al-Radd ‘alâ al-Wahhâbiyyah” yang mengkritik dan menolak ideologi kaum puritan Wahhabisme dari Nejd.

 

Lokasi Terkait Beliau

    Belum ada lokasi untuk sekarang

List Lokasi Lainnya