Biografi KH. Fu'ad Mun'im Djazuli

 
Biografi KH. Fu'ad Mun'im Djazuli

Daftar Isi Profil KH. Fu'ad Mun'im Djazuli

  1. Kelahiran
  2. Wafat
  3. Mengasuh Pesantren
  4. Istiqomah Mengajar Kitab Fathul Qorib
  5. Teladan

Kelahiran

KH. Fuad Mun’im Dzajuli atau yang kerap disapa dengan panggilan Gus Fu’ atau Yai Fu’ merupakan putra keempat dari enam bersaudara, dari pasangan KH. Ahmad Djazuli Utsman dengan Nyai Rodliyah Djazuli.

Saudara-saudara beliau diantaranya, KH. Achmad Zainuddin, KH. Nurul Huda, KH. Hamim (Gus Miek), KH. Munif dan Ibu Nyai Hj. Lailatus Badriyah.

Wafat

KH. Fuad Mun’im Dzajuli wafat pada Sabtu 17 Oktober 2020, pukul 03.30 WIB di Rumah Sakit Darmo, Surabaya.

Mengasuh Pesantren

Pada tahun 1925, Muassis pondok, Al Maghfur lah KH. Ahmad Djazuli Utsman serta sang Ummul Ma’had simbah Nyai Rodliyah Djazuli mendirikan Pondok Pesantren Al Falah.

Setelah ayahnya wafat, para putra putri beliau melanjutkan estafet kepemimpinan Pondok Pesantren Al Falah. Hingga Al Falah dapat berkembang memiliki cabang yang dikelola oleh para dzurriyah kiai Djazuli yang tersebar di beberapa tempat di Desa Ploso. Salah satu pondok tersebut adalah yang didirikan oleh KH. Fuad Mun’im Dzajuli.

KH. Fuad Mun’im Dzajuli merupakan pendiri Pondok Pesantren Nurul Falah atau dulunya akrab disebut pondok Ndalem Yai Fuad (DYF). Pondok Pesantren Nurul Falah terletak 50 meter utara pondok induk, bersebelahan dengan Poliklinik Pesantren (POLITREN) Al Falah. Di pondok ini ada santri putra dan putri, baik yang salaf ataupun yang bersekolah formal.

Istiqomah Mengajar Kitab Fathul Qorib

Keistiqomahan KH. Fuad Mun’im Dzajuli mengaji Kitab Fathul Qorib menjadi inspirasi bagi santri dan alumni. Yai Fu’ berpuluh tahun mengajar kitab fiqh ini. Tidak tebal memang. Namun pondasi fiqh yang kuat, perlu dimiliki oleh para santri. Agar berpegang teguh pada aturan syari'at Islam.

Dalam satu tahun, dipastikan Yai Fu’ mengkhatamkan kitab Fathul Qorib. Sekali di luar Ramadan, dan sekali kala mengaji 15 hari di bulan Ramadan.

Penulis mengikuti pengajian Yai Fu’ mulai tahun 2003 hingga tahun 2006. Setiap ba'da Asar, Yai Fu’ selalu mengaji, membersamai ribuan santri. Mengendarai mobil Honda Stream maupun kijang Innova. Keduanya berwarna biru. Berhenti mobil yang disopiri santri itu. Parkir di pintu selatan pesantren Al Falah. Samping komplek Hasanuddin. Entah mengapa mobil Yai Fu’ banyak yang berwarna biru. Bila tidak hanya kebetulan, penyuka warna biru kebanyakan adalah orang yang perhatian dan peka terhadap hal-hal kecil secara detail.

Langkah tegap Yai Fu’, berjalan di tengah para santri yang menunduk ta'dlim, pastilah terpatri dalam memori semua santri Ploso. Dalam keadaan hujan deras sekalipun, Yai Fu’ tetap rawuh. Dengan dipayungi santri. Langsung bergegas meniti titian, dan duduk di teras masjid. Menghadap kiblat, sementara para santri mengelilingi beliau.

Sebakda jama'ah Asar, para santri yang mengikuti pengajian kitab Sohih Al Bukhori yang dibacakan Yai Huda,  bergegas menuju pendopo. Ndalem kasepuhan pesantren Al Falah. Sementara yang mengaji kitab Fathul Qorib, telah siap menunggu kehadiran Yai Fu’. Santri yang bertugas membawakan kitab dan mengecek kesiapan mic dan kipas angin, telah hadir terlebih dahulu. Semua berusaha mendekat. Mencari tempat terdekat dengan Yai Fu’. Bagai orang dahaga mendekati telaga. Ya, memang Yai Fu’ adalah Salah satu oase ilmu di pesantren Al Falah.

Sesekali ku mencuri pandang kala Yai Fu’ memberi makna kitab. Melihat wajah ulama' merupakan kebahagiaan yang besar bagi seorang santri. Berada pada jarak terdekat, dengan tetap menjaga diri. Agar terap ta'dlim pada Kiai.

Suara Yai Fu’ memang tegas. Pernah disela pengajian, beliau menyatakan, agar para santri bersikap tegas. Termasuk dalam bersuara. Karena orang yang salah tapi tegas, akan lebih dipercaya daripada orang yang benar namun tidak tegas.

Yai Fu’ menjelaskan kitab Fathul Qorib dengan membawa kitab hasyiah Al Bajuri. Setiap ada isim isyaroh atau rujuk dalam kitab taqrib, senantiasa diartikan berbahasa arab dengan redaksi dari kitab karya syaikh Ibrohim Al Bajuri tersebut. Kitab Al Bajuri adalah Syarah/penjabaran atas kitab Fathul Qorib. Sementara Fathul Qorib adalah syara atas kitab Taqrib.

Yai Fu’ sering mengucapkan sebuah ungkapan berbahasa arab. Bunyinya "ta'ammaluu wa tadabbaruu yaa ulil albaab". Ungkapan ini berarti hendaklah kita sebagai insan yang dianugerahi akal oleh Allah, menggunakan akal untuk memikirkan secara mendalam (angen-angen, ta'ammul) dan mampu mengambil pelajaran dari setiap peristiwa. Ta'ammul dan tadabbur penting dalam memahami teks kitab, maupun memahami fenomena kehidupan sehari-hari.

Yai Fu’ memang jarang tampil di podium, memberi sambutan ataupun berpidato. Yang sering memberikan sambutan adalah kakak pertama dan kakak keduanya, yaitu Kiai Din dan Kiai Dah. Kekompakan dan kerukunan keluarga pesantren Al Falah memang telah diketahui khalayak. Putra-putri Kiai Djazuli sering mengunjungi satu sama lain. Hadir pada suatu acara pun sering bersama-sama.

Yai Fu’ tiap selesai membacakan kitab, sering mengungkapkan "sampun tam Gus...". Ungkapan yang bermakna, penjelasannya telah purna. Ucapan Gus ini bukan menyapa putra atau cucu Kiai. Namun seluruh santri memang dipanggil Gus oleh Kiai Ploso. Sebuah ungkapan sayang dan perhatian dari sang Kiai.

Yai Fu’ tercatat pernah mengampu kitab yang besar dan tebal-tebal. Pilihan mengistiqomahi Fathul Qorib bisa dimaknai keteguhan beliau untuk memberi pondasi yang kuat terhadap para santri, akan pemahaman dasar Fiqih. Pesantren Ploso sendiri terkenal dengan kajiannya yang mendalam akan literatur Fiqh madzhab Syafi'i. Mulai musyawarah kitab Fathul Qorib, Fathul Mu'in hingga Fathul Wahhab.

Yai Fu’ mengaji Fathul Qorib hingga khatam selama 15 hari pertana bulan Romadlon. Di tengah terik matahari selepas Dzuhur. Dalam keadaan berpuasa pula. Dan yang selalu dinantikan para santri, adalah kupon buka bersama bagi para santri selepas khataman Fathul Qorib.

Yai Fu’, dan juga kiai Ploso yang lain, memiliki pemahaman yang mendalam akan literatur turots / kitab kuning. Cuplikan kalimat panjang berbahasa arab, nukilan syi'ir, banyak terucap dari lisan beliau yang mulia. Hasil dari kesungguhan belajar dan keseriusan muthola'ah. Keramahannya terhadap santri, keseriusannya membersamai para santri mengaji,  menjadi keteladanan nyata bagi santri dan alumni ma'hadil Falah.

Teladan

Teladan yang dapat diikuti dari KH. Fuad Mun’im Dzajuli adalah beliau merupakan sosok kiai yang murah senyum, termasuk ketika beliau menjelaskan ta'bir/teks kitab dengan senyum mengembang. Selain itu, Yai Fu’ juga senang berbaju batik dengan serban yang selalu dibawa.