Khutbah Jumat: Memahami Shalawat Kepada Nabi Muhammad SAW

 
Khutbah Jumat: Memahami Shalawat Kepada Nabi Muhammad SAW
Sumber Gambar: Koleksi Laduni.ID

KHUTBAH PERTAMA :

 

إِنّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُه

اَللهُمّ صَلّ وَسَلّمْ عَلى سيّدنا مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وِأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن. يَاأَيّهَا الّذَيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا اللهَ حَقّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنّ إِلاّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

يَاأَيّهَا الّذِيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْلَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا

Kaum muslimin rahimakumullah.

Marilah kita memanjatkan Puja dan Puji Syukur kehadirat Allah SWT dengan nikmatnya dan hidayahnya kita dapat berkumpul disini menunaikan solat berjamah

Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wasallam yang telah menyampaikan Agama yang sempurna kepada umat manusia. Semoga kita termasuk kedalam golongan orang-orang selalu berpegang teguh dengan sunnah Beliau hingga ajal menjemput kita.

Kaum muslimin rahimakumullah

Di kalangan mufassir kata “As-Shalāh”atau الصلاةmempunyai makna yang bermacam-macam sesuai dengan siyāq al-kalam atau padanan kalimat yang melingkupinya. Misalnya, Al-Tabari mengomentari ayat “Innalāha wa malāikatahū yushallūna alan nabi” adalah bahwa sesungguhnya Allah memberikan rahmat kepada Nabi Muhammad s.a.w., kemudian malaikat memintakan ampun kepada Allah atas Nabi, sedangkan bagi manusia, ungkapan tersebut berupa doa. Dari sini dapat dipahami bahwa kata “as-Shalāh” di mana jika dijamakkan menjadi “shalawat” mempunyai peran penting di kalangan umat Islam selaku umat Nabi Muhammad s.a.w. sebagaimana dikatakan di dalam sebuah hadits: Man shallā‘alayya wāhidan, shallallāhu ‘alaihi asyran. Barang siapa yang berdoa kepadaku satu kali, niscaya Allah merahmatinya sepuluh kali.

Baca juga: Takwa Sosial untuk Menghadapi Corona

Sebagaimana kita ketahui bahwa Shalawat dalam kamus bahasa arab adalah bentuk jama’ dari kata sebagaimana terdapat dalam kamus Munjid, yang berarti doa. Jika bentuknya tunggal, shalat. Jika berbentuk jama’ shalawat, yang berarti doa untuk mengingat Allah s.w.t. terus-menerus. Arti shalawat secara istilah adalah rahmat yang sempurna, kesempurnaan atas rahmat bagi kekasihnya. Disebut rahmat yang sempurna, karena tidak diciptakan shalawat, kecuali kepada Nabi Muhammad s.a.w.. Shalawat adalah yang ditunjukan pada Rasullullah saw sebagai bukti cinta dan hormat kita padanya, ia juga doa para malaikat, bahkan Allah S.W.T. memerintahkan malaikat untuk mendoakan mereka yang bershalawat, sebagaimana yang termaktub dalam firman-Nya surat AlAhzab/33: 56.

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً -٥٦-

“Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya”.

Kaum muslimin rahimakumullah

Dalam  kamus  Lisanul  Arab, Ibnu Manzhur menjelaskan bahwa kata shalawat berasal dari kata dasar shallā, yang berarti doa. Bentuk lain kata shallā adalah shalat. Masih  dalam  penjelasan  Ibnu  Manzhur,  jika  kata shallā  berhubungan  dengan  Allah, kata ini bermakna rahmat Allah yang terwujud dalam kasih sayang, berkah, dan karunia-Nya. Sebagai  contoh  dalam  al-Quran,

هُوَ الَّذِي يُصَلِّي عَلَيْكُمْ وَمَلَائِكَتُهُ لِيُخْرِجَكُم مِّنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ وَكَانَ بِالْمُؤْمِنِينَ رَحِيماً -٤٣-

 “Dia-lah  yang  memberi  rahmat  (yushalli) kepadamu dan malaikat-Nya (memohon ampunan untukmu), supaya Dia mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada cahaya (yang terang), dan adalah Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Ahzab : 43).

Baca juga: Mentaati Risalah Kenabian Sebagai Wujud Keimanan

Lantas  bagaimana  pengertian shalawat yang ditujukan kepada Nabi SAW  dengan pengertian shalawat yang ditujukan kepada malaikat? Perbedaanya terletak pada arti dan maksudnya, yaitu doa dan permohonan ampun. Rasulullah SAW adalah pribadi yang dimuliakan Allah dengan menjauhkannyadari segala dosa,  baik  dosa  kecil  maupun  dosa  besar. Maka sesungguhnya,  anjuran  kepada  umat  Islam  agar senantiasa  bershalawat kepada Nabi Muhammad pada hakikatnya adalah dimaksudkan untuk kebaikan  masing-masing  pribadi  umat. Karena, dengan memanjatkan doa kepada Allah bagi Nabi, pada dasarnya kita memanjatkan doa  dan memohonkan ampunan bagi kita sendiri.

Kaum muslimin rahimakumullah

Salah satu permisalan yang senada dengan penjelasan di atas adalah dalam  hal  rahmat. Apabila  kita  membayangkan  Nabi  SAWseperti sebuah gelas yang terisi penuh dengan air (rahmat). Gelas itu berada di gurun pasir, di mana masing-masing dari kita, umat Nabi SAW bagaikan butiran pasir di sekitar gelas itu. Manakala kita memanjatkan shalawat ke langit  untuk Rasulullah, maka Allah mencurahkan rahmat-Nya. Mengingat Rasulullah adalah pribadi yang telah penuh dengan air, rahmat (Nabi SAW diutus ke dunia sebagai rahmat seluruh alam), rahmat  Allah itupun akan tumpah, diterima  oleh umat  Nabi  SAW. Mereka  yang  rajin  membaca  shalawat  kepada  Nabi  SAW, akan  berada dekat dengannya dan senantiasa terkena tumpahan atau percikan rahmat Allah tersebut.

Baca juga: Memaknai Al Qur’an Sebagai Petunjuk

Berkenaan dengan shalawat ini, maka Imam Bukhari dan Abu Aliyah berkata dalam kitab Tafsir Ibnu Katsir bahwa shalawat yang difirmankan Allah s.w.t. terhadap Nabi Muhammad SAW merupakan pujian atas beliau di hadapan para malaikat. (Baca Tafsir Ibnu Katsir, Juz 3, hal. 507). Maka, atas dasar ini pula, Ibnu Katsir berkata:”Maksud dari surat Al-Ahzab /33: 56 ini adalah, sesungguhnya Allah SWT mengabarkan kepada para hamba-Nya, tentang kedudukan hamba-Nyayakni Nabi Muhammad SAW di sisi para makhluk yang tinggi (Malaikat). Allah s.w.t. memuji beliau di hadapan para Malaikatnya, dan para Malaikat pun bershalawat kepada Nabi Muhammad SAW.Lalu Allah s.w.t. memerintahkan penduduk bumi untuk bershalawat dan mengucapkan salam kepada Nabi Muhammad SAW supaya terkumpul pujian terhadap beliau dari peghuni dua alam, alam atas (langit) dan alam bawah (bumi) secara bersama-sama.

Kaum muslimin rahimakumullah

Di hari kiamat, ketika umat manusia digiring ke padang mahsyar, manusia akan mencari  perlindungan dan jaminan keselamatan (syafa’at) dari para nabi. Mereka meminta syafaat kepada Nabi Adam, Nabi Nuh, Nabi Ibrahim, Nabi Musa, Nabi Isa, namun para nabi itu tidak menyanggupinya. Pada akhirnya seluruh umat manusia meminta syafaat kepada Nabi Muhammad SAW dan beliau menyanggupinya. Di dalam sebuah hadits dikatakan, bahwa Nabi Muhammad SAW akan memberikan Syafaat Uzhma (syafaat terbesar) kepada seluruh umat manusia di hari Kiamat. Umat Islam yang dekat dengan beliau tentu  akan lebih dulu mendapatkan syafaat tersebut. Di saat itu pula, semua manusia haus akan syafaat. Mereka yang sering kali bershalawat merupakan golongan  yang akan berada di dekat Nabi SAW dan lebih dulu mendapat syafaatnya. Nabi SAW bersabda: Sesungguhnya orang-orang yang paling utama di sisiku di hari kiamat kelak adalah mereka yang paling banyak bershalawat kepadaku.”

Dalam hadits lainnya, Nabi s.a.w. bersabda: “Hendaklah kalian bershalawat kepadaku di manapun kalian berada, karena sesungguhnya shalawat kalian itu akan tetap sampai kepadaku”.(HR. Al-Nasai, Abu Daud, dan Ahmad.Dishahihkan oleh al-Nawawi, hadist dari AbuHurairah r.a.). Banyak sekali riwayat yang bersumber dari Nabi SAW berkaitan anjuran bershalawat. Adapun semua shalawat itu mempunyai keutamaan sendiri-sendiri. Dari shalawat ini, lalu para ulama mengumpulkannya dalam satu untaian, sehingga menjadi qashidah yang indah dan syahdu, seperti Maulid Barzanji, Maulid Simthud Duror, Maulid Ad-Diba’i, Maulid  Burdah, dan sebagainya.

Kaum muslimin rahimakumullah

Menurut al-Ghazali, di saat orang mencintai sesuatu, ia akan selalu menyebutnya. Di saat ia mencintai Allah s.w.t, ia akan selalu mengingat dan berzikir kepada-Nya. Begitu pula di saat ia mencintai Rasulullah SAW, ia tentu akan memperbanyak shalawat kepadanya. Apabila seorang hamba banyak berzikir kepada Allah, tetapi ia tidak bershalawat atau kurang bershalawat kepada Rasulullah SAW, maka zikirnya itu tidaklah sempurna. Shalawat merupakan cahaya yang mengeluarkan seseorang dari kegelapan. Shalawat adalah sarana untuk menambah iman kepada Allah SWT dan cinta kepada Rasulullah SAW. Shalawat merupakan rasa terima kasih kita kepada pribadi yang paling mulia, yang mengiringi kita dan mengajarkan kita untuk mencapai kebahagiaan dan keindahan nan abadi.

Kaum muslimin rahimakumullah

Demikian khutbah yang singkat ini. Mudah-mudahan bermanfaat bagi kita semua.

 أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ 

KHUTBAH KEDUA:

اَلْحَمْدُ للهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا، اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، فِيْ الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

DO'A KHUTBAH:

 اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، اللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ عِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ  

___________________________
Oleh; Ust. Mohammad Khoiron