Gus Yahya Ajak Pemimpin Agama-Agama Lakukan Refleksi Teologis di Abad 21

 
Gus Yahya Ajak Pemimpin Agama-Agama Lakukan Refleksi Teologis di Abad 21

LADUNI.ID, Vatikan - Katib Aam PBNU KH Yahya Cholil Staquf mengajak para pemimpin agama di dunia untuk melakukan refleksi sejujur-jujurnya tentang posisi teologis agama masing-masing dalam upaya perdamaian. Hal itu disampaikan pada Forum Inisiatif Agama-agama Ibrahimiyah (Abrahamic Faiths Initiative - AFI) tanggal 14-16 Januari 2020, di Vatikan, Roma.

“Harus diakui, ada norma-norma ortodoksi yang memang masih mendorong segregasi, diskriminasi dan konflik… Norma-norma itu harus dihadapkan dengan konteks realitas globalisasi Abad ke 21 ini, yaitu bahwa konflik antar agama tidak mungkin lagi dilokalisir sehingga akan memicu benturan universal yang kaotik dan sudah pasti pada ujungnya akan meruntuhkan seluruh peradaban dunia,” kata Gus Yahya.

Lebih lanjut, Gus Yahya kemudian memaparkan upaya-upaya rekontekstualisasi fiqih yang telah dilakukan di lingkungan NU sejak 1984, yaitu ketika Rais Am KH Achmad Shiddiq meletakkan kerangka teologis bagi “Ukhuwwah Basyariyyah”.

“Pada bulan Februari 2019 yang lalu, Musyawarah Nasional Alim-ulama NU menetapkan bahwa kategori kafir tidak lagi relevan untuk di ruang publik dalam konteks negara-bangsa moderen. Dimensi sosial-politik dari terma kafir sebenarnya terkait konteks keberadaan satu teokrasi tunggal yang universal, yang sekarang sudah tidak ada lagi”.

Monsignor Khaled Akasheh, seorang uskup Katholik asal Yornadia, menyatakan amat terharu mendengar semua paparan itu. “Ini adalah perwujudan mimpi saya selama 25 tahun”, katanya.

UNTUK DAPAT MEMBACA ARTIKEL INI SILAKAN LOGIN TERLEBIH DULU. KLIK LOGIN